Seminar Sejarah dan Kebangsaan: Nasionalisme di Tengah Kewargaan Budaya dan Ekstrimisme Global

  1. Latar belakang

             Hampir sebagian besar orang di masa ini dapat dengan mudah mengakses bermacam pengetahuan melalui kemajuan teknologi. Tidak hanya pengetahuan, akses untuk keluar-masuk dari satu wilayah ke wilayah lain, bukan lagi menjadi masalah. Pertemuan antar tubuh, budaya dan bermacam nilai yang dibawa olehnya, sangat pasti terjadi setiap saat. Sekat geografis tidak lagi dapat membatasi perjumpaan antara satu budaya dengan budaya lainnya. Kesempatan kita untuk menjadi warga budaya yang bersifat universal, terbuka sangat lebar. Kita bisa dengan bebas untuk menjadi warga budaya dari bermacam ragam kelompok atau paham apapun. Kewargaan tidak lagi bersifat kaku, karena budaya terus menerus berubah dan melintas batas.

            Melalui penjumpaan-perjumpaan tersebut, identitas menjadi lebih berkembang karena dijamin melalui konteks budaya. Perkembangan identitas ini akan terus melahirkan banyak kelompok dari paham yang menyatukan “warganya”. Perbedaan antar identitas dan kelompok warga budaya tidak hanya bersifat produktif, akan tetapi juga dapat destruktif. Terlebih lagi bila kewargaan budaya, berkembang menjadi kewargaan politik. Kewargaan yang menonjolkan identas kelompoknya. Kewargaan semacam ini tidak jarang menegasikan diri dengan identitas kelompok lainnya melalui jalan kekerasan. Politik identitas yang diperjuangkan melalui jalan kekerasan, pada tataran selanjutnya dapat meningkat menjadi ekstrimisme global. Sebuah efek dari kewargaan yang melintas batas.

            Lantas bagaimana dengan nasionalisme pada warga yang telah melintas batas tersebut? bagaimana sikap mereka pada nasion yang selama menjadi bagian dari identitasnya? Nasion, dalam terjemahan bebasnya berarti bangsa, memiliki arti penting dalam pemahaman dasar masyarakat sebuah bangsa. Max Lane, dalam makalah berjudul “Nasion dan Sejarah: Kasus konkrit Indonesia”, menerangkan proses pembentukan nasion. Pertama, sebuah nasion itulah sebuah fenomena sosio-politik yang riil dengan keberadaaannya yang konkrit dan bukan sekedar produk imajinasi ataupun rasa solidaritas di antara sekian banyak manusia. Sifat nasion harus spesifik dan konkrit. Kedua, nasionnasion tersebut adalah fenomena sejarah, yaitu nasionnasion yang muncul pada waktu-waktu tertentu, dengan asal-usul tertentu, berarti tidak ada sebelumnya.

            Ernest Renan, seorang sastrawan, filolog, filsuf dan sejarawan dari Perancis, yang hidup pada tahun akhir tahun 1980-an,  pernah mengangkat pertanyaan besar dalam essay dengan judul “What is nation?” (Qu’est-ce qu’une nation?) dalam pidatonya di Universitas Sorbone Paris 11 Maret 1882, ia menyampaikan bahwa sebuah bangsa merupakan satu jiwa yang melekat pada suatu kelompok manusia. Mereka-mereka yang menyatakan diri dalam sebuah bangsa, memiliki pertalian panjang yang dan erat dengan sejarah yang membentuknya. Masyarakat tersebut pada umumnya, berupaya untuk bersatu, karena adanya kesamaan nasib dan penderitaan di masa lalu. Namun bukan hanya sejarah dari masa lalu saja yang dapat mengikat orang-orang itu dalam sebuah ikatan bangsa, akan tetapi juga pada kesamaan cita-cita di masa yang akan datang.

            Sama halnya dengan Indonesia. Sebagai sebuah bangsa, ada sesuatu  yang mengikat, baik di masa lalu maupun di masa yang akan datang. Sejarah panjang Indonesia untuk menjadi sebuah bangsa, bukanlah hasil pemberian atau sudah ada dari dulunya. Pemahaman mengenai pembentukan nasion, menjadi sebuah kebutuhan penting bagi rakyat sebuah negara. Namun dengan perubahan budaya yang terus menerus dan banyaknya perjumpaan yang menghasilkan berbagai negasi antar kelompok, maka kondisi semacam ini menjadi sebuah tantangan bagi nasionalisme. Terutama nasionalisme yang telah dibangun selama alur sejarah bangsa Indonesia. Melihat kondisi semacam itu, maka seminar ini penting untuk diadakan. Guna mencari tahu bagaimana posisi nasionalisme dalam menghadapi tantangan yang diajukan oleh kewargaan budaya dan ektrimisme global sekarang ini.

 

2. Kegiatan

a. Seminar sejarah dan kebangsan:

Seminar yang akan diadakan pada Sabtu, 21 Oktober 2017 ini akan diadakan di Kompleks Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Kegiatan yang diadakan meliputi:

  • Plenary speech :

Pada sesi ini akan diisi oleh para pembicara tingkat nasional. Mereka akan membicarakan mengenai sejarah, melalui kacamata ekonomi, etnis, agama dan pendidikan. Tema yang akan dibicarakan adalah mengenai nasionalisme di tengah kewargaan budaya dan Ekstrimisme Global.

  • Diskusi Panel:

Diskusi ini akan dibagi menjadi empat panel sesuai dengan subtema yaitu pendidikan, identitas (agama, etnis, dan gender), ekonomi dan sumber daya, serta seni dan budaya. Masing-masing panel akan diisi oleh lima pembicara yang terpilih dari makalah yang masuk.

b. Pentas budaya: “Indonesia sebagai Bangsa”.

Seminar Sejarah dan kebangsaan ini akan ditutup dengan makan malam dan pentas budaya di Taman Beringin Soekarno, Kampus Universitas Sanata Dharma.

 

3. Pendaftaran Seminar

a. Sub Tema (pilih salah satu):

  1. Pendidikan
  2. Identitas (agama, etnis dan gender)
  3. Ekonomi dan sumber Daya
  4. Seni dan budaya

b. Tanggal Penting

  1. Tenggat abstrak : 4 Agustus 2017
  2. Pengumuman : 11 Agustus 2017
  3. Tenggat makalah lengkap : 28 September 2017

c. Syarat abstrak:

  1. Berbahasa Indonesia
  2. 200- 300 kata
  3. Menyertakan maksimal 6 kata kunci
  4. Menuliskan subtema yang dipilih
  5. Abstrak meliputi: latar belakang, metodologi, analisa, dan hasil penelitian.

d. Syarat makalah lengkap:

  1. 3000-5000 kata atau
  2. 10-15 halaman (termasuk lampiran)
  3. Font tulisan: Times New Roman 12pt.
  4. Spasi 1.5
  5. Ukuran kertas A4

 

Kirimkan form pendaftaran dan abstrak ke: pusdep.irb@gmail.com

Narahubung: Vina +62 857- 2922-6463

                        Anne +62 856- 4381-8769

informasi lebih lanjut: www. pusdep.org

 

Unduh Formulir Format CV Seminar Nasional

Bagikan ini :

1 thought on “Seminar Sejarah dan Kebangsaan: Nasionalisme di Tengah Kewargaan Budaya dan Ekstrimisme Global”

  1. Saya sangat mendukung seminar sejarah, karena mempererat nilai-nilai kebangsaan dan cinta air. Memperhatikan situasi sekarang di negara kita banyak di antara peristiwa yang dikhawatirkan dapat mengancam NKRI yang telah diproklamasikan 17 Agustus 1945. Sebenarnya perbedaan suku bangsa di negara kita yang tercinta ini, bukanlah sesuatu yang pantas dipersoalkan sekarang. Karena itu, keragaman suku, agama, bahasa, adat istiadat bukanlah persoalan sekarang. Justeru, dapat menjadi modal dasar pembangunan nasional pada era reformasi dan otonomi daerah, wallahu aklam bissawab.

Leave a Reply to Drs. Dg.Mapata, M.M Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *